Whats Viral

3 cara jitu produkmu jadi viral

Tanpa kita sadari digital marketing itu adalah suatu hal yang sangat penting. Karena dalam berbisnis kita sangat perlu ilmu marketing untuk menaikan omset penjualan ,memasarkan sebuah produk , membangun relatinship dengan pelanggan adalah beberap kegiatan yang membutuhkan marketing. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah setelah sudah melakukan kegiatan marketing tersebut produk kita langsung bisa dikenal, jawabannya adalah belum tentu.

Mungkin buat kawan Adco yang ingin memasarkan produknya tapi bingung caranya bagaimana, Nah.. kali ini kita akan sedikit memberi tips mengenai “viral marketing”.  Apa itu viral marketing ?

Viral sendiri artinya adalah virus ,maksud di sini adalah sistem pekerjaannya adalah seperti virus yaitu sekali terinfeksi sekali langsung cepat menyebar. Jadii Viral Marketing adalah strategi komunikasi pemasaran seperti virus  dan berjangkit dari seseorang ke orang lainnya secara cepat dan luas.

Ada beberapa cara membuat konten / event yang viral :

  1. WOW Factor

Kita harus membuat sesuatu yang waw untuk pelanggan kita. WOW factor adalah sebuah kegiatan yang membuat konsumen menjadi terkesan sehingga dia akan menceritakannya kepada orang lain dan kproduk kita juga akan semakin dikenal .

  1. Konsumen harus di dengar

Ada yang bilang pembeli adalah raja..,ya benar bahwa kita harus mendengar saran dan kritik dari konsumen. Karena dari apabila ada customer yang complain atau apa ya kita dengarkan dan menanggapi dengan halus. Karena itu sebagai salah bentuk pelayanan kita. Apabila sudah melakukan hal tersebut maka customer akan menanggapinya dengan baik dan itu akan membentuk image  kita terhadap customer bahwa pelayanan kita ramah. Kalau image kita baik pasti mereka akan mebicarakannya kepada orang lain mengenai perusahaan kita.

  1. Manfaatkan media sosial

Terakhir adalah manfaatkan media sosial., hampir seluruh masyarakat indonesia mempunya sosial media jadi sangat penting buat kita memperkenalkan produk kita melalui media sosial disamping banyak menggunakan sosial media sangatlah mudah dan murah. Sudah menjadi suatu kewajiban kita memasarkan produk kita menggunakan sosial media agar lebih mudah ,cepat , dan meluas.

Jadi ketiga hal ini penting untuk kita lakukan agar produk kita cepat dikenal . Oleh karena itu viral marketing sangatlah penting untuk kita lakukan.

Semoga bermanfaat kawan Adco J

Yuk langsung lakukan, jangan menunggu lagi

Suksess

Dove Choose Beautiful

Dove’s “Choose Beautiful” | Perempuan di seluruh dunia membuat pilihan

Masih ingat campaign viral Dove #DoveRealBeautySketches?, diluncurkan 2 tahun silam dan berhasil “menggemparkan” dunia maya dengan lebih dari 65 juta viewers??

Kali ini Dove kembali mengadakan campaign yang bertajuk #ChooseBeautiful, dengan memasang dua jenis pintu: Average dan Beautiful di 5 kota dunia sehingga para wanita bisa memilih pintu mana yang akan mereka masuki untuk mendefine diri mereka.

Inline dengan kampanye sebelum-sebelumnya, dove kembali memilih tema yang bukan lagi mendeskripsikan produk, melainkan kepada image, good cause, untuk membuat para wanita di dunia ini , merasa dan percaya diri untuk memilih menyatakan bahwa mereka beautiful.

Kampanye viral kali ini sudah menarik lebih dari 2 juta pemirsa untuk melihatnya dalam waktu dua hari saja!!. luar biasa!! bisa dikatakan cukup sukses dan bisa jadi mengekor kesuksesan kampanye sebelumnya….

Why viral? Why campaign to build image instead of product function?

Dove adalah brand besar dibawah payung perusahaan multinational raksasa, Unilever, yang dalam sejarahnya sudah diperkenalkan pada tahun 1955. Diawali dengan iklan-iklan yang mengedukasi konsumen bahwa Dove bukan sabun biasa karena komposisinya lebih besar adalah moisturizing cream; sejak tahun 2004 mereka memulai kampanye yang mengarah ke non-product description melalui “Campaign for Real Beauty” untuk menginspirasi para wanita untuk mengartikan beauty dalam arti luas dan menjadi percaya diri… berbagai sudut pandang mengenai beauty kemudian mereka luncurkan pada iklan-iklan TVC mereka.

Bisa dikatakan, karena merek ini telah mencapai level awareness yang baik, maka tidak perlu lagi terlalu berkutat pada iklan-iklan yang mengedukasi konsumen. Justru dari kampanye seperti ini, image atau citra dari Dove sebagai merek yang “pro wanita” menjadi terjustifikasi. Selanjutnya mengenai penggunaan media online atau buzz dengan viral. Di era digital ini, tidak dipungkiri going viral marketing merupakan kegiatan yang “low-budged-high-impact” dan pada akhirnya akan berkontribusi pada naiknya angka penjualan. Peluncuran video berdurasi panjang ini kembali membuktikan bahwa Dove masih percaya (dan membuktikan) bahwa metode ini memiliki tingkat accountability yang kuat bagi kegiatan pemasaran produk mereka.

Apakah artinya mereka sudah sempurna melakukan aktivitas marketingnya? belum tentu. Ilmu marketing nyaris tidak memiliki batas yang rigid tentang keberhasilan atau kegagalan suatu aktivitas pemasaran. Tapi yang jelas, market dan pesaing sudah melihat dan mengetahui (aware) atas pola kampanye  (yang positif) dari Dove. Dan hal ini bisa jadi merupakan salah satu sumber Ekuitas merek (Brand Equity) tambahan untuk Dove itu sendiri, dimana ekuitas merek pada akhirnya diharapkan berkontribusi positif ada kelangsungan dan profitabilitas merek dalam jangka panjang.

semoga!

#GGMktgThought

sources:

http://en.wikipedia.org/wiki/Dove_(toiletries)
http://news.yahoo.com/blogs/trending-now/dove-s-%E2%80%9Cchoose-beautiful%E2%80%9D-campaign-proves-beauty-is-a-choice-173044919.html;_ylt=AwrXgyKJiiZVdV0ApSrQtDMD;_ylu=X3oDMTByNWU4cGh1BGNvbG8DZ3ExBHBvcwMxBHZ0aWQDBHNlYwNzYw–
https://www.youtube.com/user/doveunitedstates
https://www.youtube.com/watch?v=litXW91UauE
Beli Rumah dapat istri

Beli Rumah Bonus Istri?

“Ada-ada saja cara orang beriklan untuk menarik pembelinya, yang teranyar adalah iklan dari seorang wanita single parent asal Sleman, Yogya yang berniat menjual rumah peninggalan ibunya seharga 999 juta (pemilihan harga ini juga mengikuti kaidah psychological pricing => ah harga ga sampe 1 milyar), “paket lengkap” dengan kesempatan meminang dirinya yang notabene berstatus janda*)asal tidak nego, serta syarat dan ketentuan berlaku. Unik, dan mungkin baru pertama kali “terebar” begitu luasnya, sekali lagi, thx to viral buzz yang dalam hitungan jam saja sudah menyebar dengan cepat bahkan hingga lintas negara. Ya inilah efek viral marketing yang dahsyat.

Muasalnya karena ibu Winallia (40) yang ingin menjual rumah tapi tidak sampai hati melepas rumah yang dia renovasi dengan bantuan tenaga arsitek, berharap dia masih bisa menempati rumah sekaligus mendapatkan uang yang sedang ia butuhkan; pun setelah 14 tahun sendiri menugurus kedua anaknya, menurut beliau, sudah saatnya untuk mencari pasangan hidup lagi yang serius; sehingga ide sekaligus mencari pasangan yang membeli dan menikahi beliau mungkin bisa jadi merupakan isi pesan yang menarik. Adalah Bapak Dian, agen properti yang pertamakali mengiklankannya pada tanggal 7 Maret 2015 yang lalu, semula hanya lewat BBM semata kemudian meluas dan mengusulkan untuk menambahkan kalimat persuasive: “bonus” bisa menikahi pemilik rumah atas persetujuan pengiklan. Beliau pulalah yang kemudian mengunggah pada beberapa website jual rumah pada umumnya;- sampai di sini masih aktivitas pemasaran yang wajar dan normal. Beriklan dengan deskripsi yang bisa menarik target customer untuk tertarik dan mencari informasi tambahan lebih lanjut – lalu kemudian dibaca, di capture disebarkan oleh siapa entah pertama kali itu dilakukan – nah ini yang mulai masuk ke “below the line” atau non-tradisional effort dalam beriklan.

Dan BOOM!, sesederhana gerakan jemari pada era digital ini membuat penyebaran menjadi sangat cepat, tidak terkontrol, tidak bisa di bendung, bahkan dengan bubuhan kreativitas sehingga tercipta meme yang langsung menimbulkan keingintahuan, meluncur ke google, “mantengin” twitter atau Facebook, dan browsing google atau sumber-sumber media online lain, langsung dengan cepat informasi kita peroleh. Semakin hari semakin menuai perhatian. Wartawan, bukan hanya pembeli atau yang iseng bertanya, kemudian datang membuat “word of mouth” semakin lama bertahan di dunia maya. Bahka media asing seperti TIME dan Huffington post juga mengangkat topik yang sama sehingga beritanya mendunia. Ya MENDUNIA dalam hitungan hari. Luar Biasa.

Sebenarnya kenapa ini bisa terjadi? Menurut hemat saya, selain pesan yang unik – tidak bisa dipungkiri bahwa pengiklan cukup cerdas menaruh tagline yang catchy!; timing dari pengiklan ini “kebetulan pas” pada saat audiens dijejali berita politik tanah air, kondisi rupiah yang melemah, serta ancaman-ancaman negara luar akibat tindakan hukum di negara ini. Kejenuhan yang sedang dialami para konsumen kemudian mendapatkan suguhan informasi yang “breaking the clutter”, kemudian menjadi hiburan tersendiri. Walau tidak kemudian bisa menarik dengan cepat (yang mereka pikir) adalah target audience, atau target konsumen, namun “efek gaung” nya cukup membuat decakan kagum. Dapak negatif, saat nada miring atau penanya iseng kemudian berdatangan, anggaplah itu efek negatif dari beriklan. Yang harusnya, sudah diantisipasi penaruh iklan dan agennya sebelumnya.

gambar-blog

Pelajaran menarik adalah, bahwa mudahnya tweet, re-tweet, update status, pasang di instagram, path, upload di youtube, dan berbagai kemudahan melakukan exchange informasi (yang berdasarkan definisi terakhir dari Pemasaran berdasarkan American Marketing Association) sepatutnya dipergunakan dengan hati-hati dan penuh perhitungan.

“what’s next” jika sudah tersebar luas? How to handle (and tackle) the negative effect(s) yang (seringkali) tidak bisa dihindari? How to transform the “persuasion” into “transaction?” semua yang gratis tidak selamanya baik. Kuncinya memang bagaimana mengendalikan arus, isi dan interpretasi informasi pada lingkungan yang sulit dikendalikan, sehingga tujuan pemasaran bisa diperoleh dengan keuntungan di pihak penjual (dan pembeli?) dan imbalan (hiburan) bagi para “perantara informasi”. Semua untung. Semua senang.

Nasi sudah menjadi bubur, walau ibu Winallia sendiri mengaku beliau sedikit malu dan berusaha meyakinkan bahwa ini bukan usaha mencari sensasi belaka, rumah tetap harus dijual (dan harap-harap suami yang baik, sholeh dan punya uang untuk membeli rumah) bisa di peroleh secara serentak; walau tujuan menjual rumah yang utama, tidak dapat suami baru tidak mengapa. Mungkin saatnya kembali memanfaatkan viral sebagai media “informasi tambahan/koreksi”. Selain menampilkan spesifikasi rumah dan gambar, perlu di bubuhi keterangan: “Hanya yang berminat serius, bagi yang ingin memanfaatkan bonus menikah, datang langsung tatap muka dengan penjual dan perantara ke lokasi sekaligus cek rumah (dan cek calon mempelai?) dengan syarat-syarat dan  berikut: bla bla bla bla; surat-surat tanda single ini itu; jika peminat tidak berniat mengambil bonus bisa kontak via telepon atau wa atau bbm atau datang langsung (opsional). Jangka waktu “open house” da penawaran adalah hingga tanggal sekian…

Siapa tau dengan informasi yang (sedikit) lebih jelas itu, tujuan penjual bisa tercapai (rumah laku), “perantara viral’ bisa menyebarkan lewat medsos atau jaringan yang mereka miliki (benefit hiburan) dan pembeli bisa lebih jelas mengecek kecocokan (rumah dan calon) sehingga tidak seperti membeli kucing dalam karung. Pada akhirnya, keuntungan penjual ada di tangan pembeli yang puas (satisfaction), bukan?

 

#GG’sMktgThought

Sumber:

http://www.tempo.co/read/news/2015/03/11/058648953/Motif-Wina-Lia-Ngotot-Jual-Rumah-Bonus-Suami

http://www.bingkaiberita.com/beli-rumah-bonus-istri-cantik/

http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-winalia-wanita-yang-iklan-jual-rumah-sekaligus-bisa-menikahinya.html

http://www.presnapos.com/iklan-beli-rumah-bonus-istri-di-sleman-ternyata-betulan/

http://boomee.co/2015/03/heboh-iklan-beli-rumah-bonus-istri

Whats Viral

Energistically target synergistic ROI after cross-platform technology. Progressively brand client-centric expertise for equity invested architectures. Rapidiously revolutionize end-to-end quality vectors rather than visionary services. Compellingly coordinate plug-and-play materials vis-a-vis excellent data. Completely plagiarize installed base users rather than synergistic paradigms. (more…)

Whats Viral

Credibly productivate leading-edge infomediaries for cost effective supply chains. Uniquely network proactive paradigms with stand-alone innovation. Quickly create one-to-one platforms for best-of-breed applications. Efficiently network long-term high-impact e-business rather than inexpensive catalysts for change. Holisticly transform state of the art web-readiness via competitive quality vectors. (more…)

Monotonectally myocardinate enabled relationships

Efficiently simplify ethical alignments with low-risk high-yield e-tailers. Energistically network next-generation processes via web-enabled niche markets. Uniquely procrastinate enterprise e-business for mission-critical systems. Energistically envisioneer intuitive ideas whereas standards compliant infrastructures. Energistically supply customized technology rather than standardized markets. (more…)