Beli Rumah Bonus Istri?

Beli Rumah dapat istri

Beli Rumah Bonus Istri?

“Ada-ada saja cara orang beriklan untuk menarik pembelinya, yang teranyar adalah iklan dari seorang wanita single parent asal Sleman, Yogya yang berniat menjual rumah peninggalan ibunya seharga 999 juta (pemilihan harga ini juga mengikuti kaidah psychological pricing => ah harga ga sampe 1 milyar), “paket lengkap” dengan kesempatan meminang dirinya yang notabene berstatus janda*)asal tidak nego, serta syarat dan ketentuan berlaku. Unik, dan mungkin baru pertama kali “terebar” begitu luasnya, sekali lagi, thx to viral buzz yang dalam hitungan jam saja sudah menyebar dengan cepat bahkan hingga lintas negara. Ya inilah efek viral marketing yang dahsyat.

Muasalnya karena ibu Winallia (40) yang ingin menjual rumah tapi tidak sampai hati melepas rumah yang dia renovasi dengan bantuan tenaga arsitek, berharap dia masih bisa menempati rumah sekaligus mendapatkan uang yang sedang ia butuhkan; pun setelah 14 tahun sendiri menugurus kedua anaknya, menurut beliau, sudah saatnya untuk mencari pasangan hidup lagi yang serius; sehingga ide sekaligus mencari pasangan yang membeli dan menikahi beliau mungkin bisa jadi merupakan isi pesan yang menarik. Adalah Bapak Dian, agen properti yang pertamakali mengiklankannya pada tanggal 7 Maret 2015 yang lalu, semula hanya lewat BBM semata kemudian meluas dan mengusulkan untuk menambahkan kalimat persuasive: “bonus” bisa menikahi pemilik rumah atas persetujuan pengiklan. Beliau pulalah yang kemudian mengunggah pada beberapa website jual rumah pada umumnya;- sampai di sini masih aktivitas pemasaran yang wajar dan normal. Beriklan dengan deskripsi yang bisa menarik target customer untuk tertarik dan mencari informasi tambahan lebih lanjut – lalu kemudian dibaca, di capture disebarkan oleh siapa entah pertama kali itu dilakukan – nah ini yang mulai masuk ke “below the line” atau non-tradisional effort dalam beriklan.

Dan BOOM!, sesederhana gerakan jemari pada era digital ini membuat penyebaran menjadi sangat cepat, tidak terkontrol, tidak bisa di bendung, bahkan dengan bubuhan kreativitas sehingga tercipta meme yang langsung menimbulkan keingintahuan, meluncur ke google, “mantengin” twitter atau Facebook, dan browsing google atau sumber-sumber media online lain, langsung dengan cepat informasi kita peroleh. Semakin hari semakin menuai perhatian. Wartawan, bukan hanya pembeli atau yang iseng bertanya, kemudian datang membuat “word of mouth” semakin lama bertahan di dunia maya. Bahka media asing seperti TIME dan Huffington post juga mengangkat topik yang sama sehingga beritanya mendunia. Ya MENDUNIA dalam hitungan hari. Luar Biasa.

Sebenarnya kenapa ini bisa terjadi? Menurut hemat saya, selain pesan yang unik – tidak bisa dipungkiri bahwa pengiklan cukup cerdas menaruh tagline yang catchy!; timing dari pengiklan ini “kebetulan pas” pada saat audiens dijejali berita politik tanah air, kondisi rupiah yang melemah, serta ancaman-ancaman negara luar akibat tindakan hukum di negara ini. Kejenuhan yang sedang dialami para konsumen kemudian mendapatkan suguhan informasi yang “breaking the clutter”, kemudian menjadi hiburan tersendiri. Walau tidak kemudian bisa menarik dengan cepat (yang mereka pikir) adalah target audience, atau target konsumen, namun “efek gaung” nya cukup membuat decakan kagum. Dapak negatif, saat nada miring atau penanya iseng kemudian berdatangan, anggaplah itu efek negatif dari beriklan. Yang harusnya, sudah diantisipasi penaruh iklan dan agennya sebelumnya.

gambar-blog

Pelajaran menarik adalah, bahwa mudahnya tweet, re-tweet, update status, pasang di instagram, path, upload di youtube, dan berbagai kemudahan melakukan exchange informasi (yang berdasarkan definisi terakhir dari Pemasaran berdasarkan American Marketing Association) sepatutnya dipergunakan dengan hati-hati dan penuh perhitungan.

“what’s next” jika sudah tersebar luas? How to handle (and tackle) the negative effect(s) yang (seringkali) tidak bisa dihindari? How to transform the “persuasion” into “transaction?” semua yang gratis tidak selamanya baik. Kuncinya memang bagaimana mengendalikan arus, isi dan interpretasi informasi pada lingkungan yang sulit dikendalikan, sehingga tujuan pemasaran bisa diperoleh dengan keuntungan di pihak penjual (dan pembeli?) dan imbalan (hiburan) bagi para “perantara informasi”. Semua untung. Semua senang.

Nasi sudah menjadi bubur, walau ibu Winallia sendiri mengaku beliau sedikit malu dan berusaha meyakinkan bahwa ini bukan usaha mencari sensasi belaka, rumah tetap harus dijual (dan harap-harap suami yang baik, sholeh dan punya uang untuk membeli rumah) bisa di peroleh secara serentak; walau tujuan menjual rumah yang utama, tidak dapat suami baru tidak mengapa. Mungkin saatnya kembali memanfaatkan viral sebagai media “informasi tambahan/koreksi”. Selain menampilkan spesifikasi rumah dan gambar, perlu di bubuhi keterangan: “Hanya yang berminat serius, bagi yang ingin memanfaatkan bonus menikah, datang langsung tatap muka dengan penjual dan perantara ke lokasi sekaligus cek rumah (dan cek calon mempelai?) dengan syarat-syarat dan  berikut: bla bla bla bla; surat-surat tanda single ini itu; jika peminat tidak berniat mengambil bonus bisa kontak via telepon atau wa atau bbm atau datang langsung (opsional). Jangka waktu “open house” da penawaran adalah hingga tanggal sekian…

Siapa tau dengan informasi yang (sedikit) lebih jelas itu, tujuan penjual bisa tercapai (rumah laku), “perantara viral’ bisa menyebarkan lewat medsos atau jaringan yang mereka miliki (benefit hiburan) dan pembeli bisa lebih jelas mengecek kecocokan (rumah dan calon) sehingga tidak seperti membeli kucing dalam karung. Pada akhirnya, keuntungan penjual ada di tangan pembeli yang puas (satisfaction), bukan?

 

#GG’sMktgThought

Sumber:

http://www.tempo.co/read/news/2015/03/11/058648953/Motif-Wina-Lia-Ngotot-Jual-Rumah-Bonus-Suami

http://www.bingkaiberita.com/beli-rumah-bonus-istri-cantik/

http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-winalia-wanita-yang-iklan-jual-rumah-sekaligus-bisa-menikahinya.html

http://www.presnapos.com/iklan-beli-rumah-bonus-istri-di-sleman-ternyata-betulan/

http://boomee.co/2015/03/heboh-iklan-beli-rumah-bonus-istri

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *